Setiap hari, setiap malam, setiap waktu aku melihatnya. Seandainya aku bisa mengerti apa yang kuperbuat kemarin, aku nggak ingin mengulanginya. Aku mencoba menulis di diaryku, berharap untuk sedikit lebih tenang. Nyatanya nggak. Benarkah perkataan kak Ika kemarin? Gara – gara hal itu aku sekarang menyesal. Sekarang aku bingung. Apakah ayah akan marah padaku?
Kubuka jendela kamar, menghirup udara segar di daerah pegunungan. Damai rasanya. Disana didominasi oleh warna hijau, hijau, dan hijau. Tangga didekat sungai pun juga hijau. Sepertinya menyenangkan jika aku pergi kesana. Nah, akhirnya aku menemukan tujuanku.
Setelah mandi, aku keluar kamar. Ternyata di teras ada ayah yang sedang minum segelas kopi. Aku mengendap – endap melewatinya. Dan..
“Nindy, kamu mau kemana?”. Tanya ayah.
“Eh..emm.. Nindy mau kesana ayah. Ayah, Nindy minta maaf atas kejadian kemarin”. Aduh, ayah pasti melarang dan marah.
“Oh, ya. Hati – hati dan cepat pulang ya, nak. Kalau masalah kemarin, lupakan saja”. Jawab ayah. Ternyata beliau tidak melarangku. Aku girang di dalam hati. Melihat ayah mengijinkanku, kak Ika yang sedang duduk di pagar menatapku sinis.
“Eh putri gadungan! Mau kemana lu?”. Tanya kak Ika.
“Kesana kak”. Jawabku singkat.
“Nggak mau kabur lagi?”. Tanya kak Ika dengan sinis.
Aku balik menatapnya sinis. Aku mengacungkan kedua jari tengah tanganku kearahnya. Setahuku, ini adalah symbol kemarahan pada seseorang. Nggak peduli deh. Lebih baik aku segera menuju ke karpet hijau disana.
Beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai di tempat damai yang terlihat dari jendela kamar tadi. Ini adalah bukit yang didekatnya terdapat tangga yang disebut terasering yang biasanya untuk menanam. Sawah di daerah pegunungan kan seperti ini. Aku memilih duduk di dekat kincir angin yang biasanya digunakan untuk mengairi sawah dan sekitarnya.
Nggak disangka ternyata ada air dari hidungku yang menetes. Kusapnya dengan tanganku. Lho, kok darah? Kuraba hidungku, ternyata benar. Ini darah. Tiba – tiba handphoneku bordering. Ayah menelponku.
“Nindy, ibu sekarang ada di rumah sakit, kamu cepat pulang”. Kata ayah lalu menutup teleponnya.
Yaampun, ini salahku. Aku harus segera pulang kerumah. Ditengah perjalanan, aku bertemu Faris. Anak laki – laki paling cakep di desa ini. Dia member tawaran padaku untuk mengantarkanku pulang. Tentu aku sangat mau.
“Faris, bisa nggak kita ke rumah sakit aja? Plis”. Pintaku.
“Boleh. Siapa yang sakit?”. Tanya Faris sambil berbelok arah menuju rumah sakit.
“ Ibu. Ini semua sebabku”. Kataku.
“Kok kamu?”. Faris kaget.
“Iya. Kemarin aku bertengkar sama kak Ika. Lalu, dia bilang kalau aku bukan anak kandung ibu dan ayah. Hiks… Lalu aku bertanya pada ibu yang pada waktu itu sedang sakit. Lalu sakit ibu tambah parah”. Jelasku sambil menangis.
Ternyata sudah sampai rumah sakit. Aku segera mencari ayah dan ibu di UGD. Siapa tahu mereka masih disana. Tuh kan, ternyata disana ada kak Ika. Dia datang menghampiriku.
“Eh, ada adik angkat”. Katanya ketus. Aku hanya diam dan tidak menghiraukannya. Biarin. Aku menarik tangan Faris untuk langsung menuju ke dalam.
“Ayah, mana ibu?”. Aku khawatir.
“Masih diperiksa”. Jawab ayah sedih.
“Ayah, kan kita di rumah sakit, nih. Gimana kalau kita tes DNA aja”. Kata kak Ika yang tiba – tiba datang tak diundang.
“Buat apa?”. Tanya ayah.
“Biar si Nindy percaya kalau dia bukan adikku”. Jawabnya dengan ketus.
Akhirnya ayah pasrah. Sebenarnya, ayah sudah tahu hasilnya. Ayah segera meminta dokter untuk mengambil sampel darah ibu, dan mengambil sampel darahku dan kak Ika. Ya sudahlah, apapun hasilnya aku tetap anak ayah dan ibu.
***
Beberapa hari kemudian, ibu diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Faris setiap hari menemaniku di rumah sakit, meskipun dia selalu bolak – balik dari desa ke kota. Hasil tes DNA beberapa hari yang lalu juga sudah keluar. Namun, ayah meminta untuk dibuka di rumah saja.
“Apapun hasilnya, kamu yang sabar ya, Nin”. Kata Faris menghiburku.
“Ya, aku uda ikhlas kalau emang semua itu bener”. Jawabku. Setelah mengantarkanku pulang dari rumah sakit, dia langsung pulang.
“Ayo, ayah. Cepat buka hasilnya”. Kata kak Ika dengan girang.
“Ya, ayah akan membukanya”. Jawab ayah sambil membuka amplop berisi hasil laboratorium. Ayah membacanya duluan. Setelah membaca hasil tersebut, wajah ayah pucat pasi. Keringat keluar deras dari keningnya. Dan beliau berkata, “Salah satu dari kalian, bukan anak ayah dan ibu”.
Mendengar jawaban ayah, kak Ika tersenyum lalu tertawa girang. Aku mengerti. Perkataan kak Ika benar. Lalu, dia mengambil hasil itu dan membacanya. Namun, bukan wajah bahagia yang nampak. Dia hanya berteriak.. berteriak, berteriak lalu tak sadarkan diri.
“Kak Ika, kak!”. Aku mencoba membangunkannya dan mengambil hasil itu.
“Ayah, ibu! Kak Ika pingsan”. Aku berteriak.
Ayah dan ibu datang menghampiriku, lalu segera menolong kak Ika dan membawanya ke kamar. Ibu menangis. Begitu pula ayah. Sebenarnya aku nggak tahu apa hasilnya. Diam – diam, aku membacanya.Oh, Tuhan. Benarkah ini? Ternyata DNAku cocok dengan ibu. Tapi, kak Ika? Dia berbeda dengan ibu.
“Ika! Jangan tinggalkan ibu”. Terdengar teriakan ibu dari dalam kamar. Aku segera menghampirinya.
“Innalilahi.. Nindy, kemarilah. Kak Ika telah berpulang”. Kata ayah menangis.
“Kak Ika? Kak! Kak Ika, jangan pergi!”. Aku menangis histeris.
Kak Ika telah tiada. Mungkin dia terkena serangan jantung setelah melihat hasil DNA tadi. “DNA sialan! Bullshit kamu!”. kemarahanku pada hasil DNA itu membuatku berkata seperti itu. Aku membuang hasil DNA tersebut, menginjaknya, membakarnya, hingga menjadi abu dan menyiramnya dengan air. Aku sendirian di belakang rumah. Ketika semua orang sibuk merawat kak Ika sebelum dimakamkan. Ehuum… aku bukanlah adik yang baik. Aku harus ikut mereka yang sedang merawat kak Ika. Meskipun aku tak kuat menutupi air mataku.
Setelah selesai, kami segera memakamkan kak Ika. Kantung mata ibu terlihat jelas karena menangis. Begitu pula aku. Faris berada di sampingku dan terus menguatkan aku. Kak Ika, semoga kamu bahagia disana dan aku tak akan melupakanmu.
***TAMAT***