WELCOME TO MERRY'S BLOG

MERRY'S BLOG

Senin, 27 Desember 2010

MAAF

Mentari pagi bersinar dengan indahnya. Yapp, indah karena hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah sebelum liburan semester dimulai. Hmm… apa yang hari ini kulakukan setelah pulang sekolah? Kalo tidur, kan masih pagi! Kalo main ke rumah Wenna temanku, huh bosen. Yasudahlah, lebih baik online ke warnet aja. Hhahaha….
Aku bersiap untuk berangkat sekolah. Tak lupa membawa handphone untuk penghilang stress di kelas. Yaah.. Aku harus segera berangkat sebelum pak satpam menutup pintunya.
“Rin, ayo buruan! Uda jam tujuh nih”. Kata Tika yang sudah duduk di motornya.
“Iya iya, Ka”. Daripada Tika terus mengomel, lebih baik aku naik ke motornya.
Hmm… sepanjang perjalanan Tika hanya diam. Aku ngomong, nggak direspon. Aku tanya, nggak dijawab. Dari kaca spion aku hanya melihat Tika yang berwajah menakutkan, dengan alis yang ditekuk ke atas. Aku hanya bengong lihat wajah Tika. Apa hanya gara – gara aku tadi? Padahal aku baru telat 5 menit, dia udah gini. Perjalanan ke sekolah serasa lama.
Wahh.. akhirnya kita sampai di sekolah. Tapi Tika tetap saja diam. Aku berjalan di belakangnya. Menoleh padaku pun tidak.
“Ka, kamu kenapa seh?”. Aku bertanya pada Tika.
“Nggak kok, bukan kamu”. Jawabnya dengan ketus.
“Lha terus? Kok kamu?”. Aku tak meneruskan kata – kataku.
“Mmm.. dulu ya”. Kata Tika sambil menepuk punggungku dan tersenyum, lalu pergi.
Yasudahlah, mungkin dia sibuk. Tapi, dia kan satu kelas dengan Evan? Kok Evan nggak pernah cerita ke aku kalau dia sibuk? Aku jadi sungkan kalau sms dengannya. Aku ngganggu. Yapp… Berjalan melewati lorong sekolah menuju kelasku memang sangat jauh. Pastinya aku lewat di depan kelas Evan dan Tika, yaitu IX-C. Dengan ramah aku menyapa Tika yang sedang berdiri di depan pintu, tapi sayang aku tak direspon. Bersamaan dengan Evan yang masuk ke kelas, kami berpapasan.
“Maaf Van, nggak sengaja”. Kataku sambil mengambil selembar foto yang jatuh dari tangan Evan.
“Iya, aku juga minta maaf Ririn”. Jawabnya sambil tersenyum.
“Ini punyamu, tadi jatuh”. Aku memberikan foto itu pada Evan.
Wajah shock mengubah senyumnya. Evan terlihat seperti orang yang kepergok nyuri ayam tetangga. Aku hanya tersenyum lalu pergi ke kelasku.
Sesampainya di kelas, aku langsung diam melihat keadaan kelasku, kela IX-A. Bangku tak ada, pajangan pun porak – poranda. Hanya ada lukisan yang dibuat para siswa, dan pahatan – pahatan dari kayu dan sabun yang tentunya dibuat para siswa juga. Mungkinkah ini kelasku?
“Hei, Rin! Kau salah masuk kawan!”. Seseorang memanggilku.
Lalu aku melihat ke arah atas, melihat papan nama untuk ruangan, dan apa? Ternyata ini ruang seni rupa! Lalu kelasku dimana? Aku langsung menunduk karena malu.

** TO BE CONTINUE **

Rabu, 01 Desember 2010

ZA

Hari sudah mulai gelap. Hembusan angin malam seakan berkata padaku, “Pulanglah, semua mencarimu”. Hmm.. Mereka semua menyebalkan. Emosiku selalu meledak ketika dirumah. Cemoohan, suara keras, dan rintihan kekalahan selalu menyelimuti rumah kecil nan reyot, yang menggunakan air asin untuk beraktivitas. Itu rumahku. Cahaya bulan dan lampu minyak yang membuatnya tampak.
Peristiwa ini dimulai 5 tahun lalu. Kami hidup dalam keluarga sederhana tapi kaya akan kegembiraan. Hanya ada ayah, ibu, dan aku. Kadang kami bermain dengan ombak, memetik buah kelapa muda, hingga membantu ayah menyiapkan jala. Aku menulis sebuah kata di kapal ayah, Mukjizat. Nama indah yang kami beri pada kapal tersebut karena selalu membantu ayah pergi melaut.
Suatu malam Setelah terjadi badai, ayah memutuskan untuk melaut lagi, karena bahan makanan dirumah telah habis. Hanya itu cara ayah mencari nafkah.
“Ayah, jangan melaut dulu. Badai bisa kembali”. Ibu memohon.
“Kalau aku tidak melaut, mau makan apa kita? Lupakan masalah badai!“. Bentak ayah.
“Tapi..“. Ibu menghentikan pembicaraan.
“Doakan saja aku mendapat banyak ikan”. Jawab ayah.
Aku mendengar pembicaraan mereka dari teras rumah. Aku hanya diam. Perkataan ibu saja tak didengar, apalagi aku? Ayah hanya menatapku dari kejauhan, lalu pergi lewat pintu belakang menuju ke pantai. Ibu juga mengantarnya. Berharap ayah kembali dan menghapus niatnya untuk melaut, aku menunggunya disini. Ia pun tak kunjung datang. Setelah kulihat ke pantai, kapal ayah sudah berlayar jauh. Semua ini menjadi sia – sia.
Hari demi hari telah terlewati, tapi ayah tak kunjung datang. Akhir – akhir ini, ibu mulai sakit – sakitan. Mungkin karena tak terbiasa hidup tanpa ayah terlalu lama. Setiap kali kulihat kea rah laut, aku berharap ayah datang. Hingga 3 bulan kemudian, ayah tak juga datang. Kini ibu sulit bangun dari kasurnya.
Tak tega aku melihat ibu terbaring lemah di kamar, berharap tentang ayah. Aku ingin sekali menangis, tapi aku malu pada ibu. Masih diberi cobaan sedikit, sudah menyerah.
“Nak, bisakah kamu mencari ikan? Ibu lapar“. Kata ibu.
“Baik bu“.
Aku segera menuju ke laut untuk mencari ikan. Ketika sampai di pantai, aku bingung dengan apa yang kulakukan selanjutnya. Ayah tak pernah mau mengajariku. Aduh, kapan aku bisa berguna untuk orang lain? Tiba – tiba, kakiku menyentuh sesuatu yang tak lin adalah serpihan kayu. Kuambil kayu tersebut. Astaga! Ada tulisan ZA di kayu itu. Sepertinya tulisanku, mirip dengan apa yang kutulis di kapal ayah. Serpihan dari tulisan MUKJIZAT. Tuhan, apa yang terjadi pada ayah?
Aku berlari ke rumah dan membawa kayu itu, dan akan kutunjukkan pada ibu. Kubuka pintu belakang rumah sambil memanggil ibu,“Bu, ibu, Lily punya kabar“. Tak ada jawaban. Aku menuju ke kamar dan melihat ibu tertidur. Kugoyang – goyangkan tubuhnya, kusentuh pipinya, tetapi ia tak juga bangun. Seluruh tubuhnya dingin, kaku. Setelah aku memeriksa denyut nadinya, seluruh tubuhku lemas. Seakan tak percaya kejadian ini. Aku menemukan serpihan kayu bertuliskan ZA, yang tak lain adalah serpihan dari kapal ayah. Dan kini, aku melihat ibu. Mereka berdua pergi meninggalkanku. Mereka kejam, pergi tanpa aku.
Sejak mereka pergi, bibi Jane tinggal di rumah untuk merawatku. Sedikit lebih merasakan hidup dengan cerahnya lampu. Tetapi entah mengapa semua itu membuatku bersedih. Aku tak lagi kaya akan kebahagiaan.
Sekarang, tepat malam ini, di pantai yang dingin aku berdoa sambil merintih kelaparan akibat hukuman bibi Jane. “Ayah, ibu, tolong jemputlah aku disini”, kataku hingga menangis. Dengan perlahan, aku mulai menundukkan tubuhku ke bawah, lalu memejamkan mata, dan berteriak bersama angin yang kencang. Aku berada tepat di bibir pantai, lutut hingga bagian bawah kakiku sudah terendam air laut. Aduh, aku lupa. Pada bulan ini air laut pasang. Ombak besar mulai datang. Aku harus cepat berlari ke daratan. Semakin cepat, semakin cepat, hingga aku terpeleset. Tidak, lututku berdarah terkena batu. Tolong! Arus ombak membawaku menuju laut. Aku berusaha beranjak dan berlari kembali. Sial, ada ombak lebih besar menuju kesini. Ayah, ibu, bibi Jane, maafkan aku. Tak sanggup lagi aku berdiri. Tuhan, tolonglah aku. Aku tak bisa berenang. Kurasakan air asin memenuhi tubuhku. Kini kuserahkan semua padaMu. Entah aku hidup atau mati. Aku menyerah. Selamat tinggal semuanya!.

Kamis, 23 September 2010

Who Is He?

Pagi ini lebih panas dibanding kemarin. Mentari pagi telah menyinarkan sinar cerahnya ke arah mataku. Menyebalkan memang, tapi untunglah aku memakai kacamata. Inilah perjuangan. Melewati pasar ikan yang penuh dengan bau amis, serta tempat pembuangan sampah yang tak kalah baunya. Roda sepeda gunung milikku berputar kencang karena kayuhan kuat kakiku. Bau amis hilang, digantikan oleh bau asap kendaraan berlalu – lalang di terminal. Di sebuah pos yang tak terpakai dekat terminal, aku selalu melihat seorang kakek yang selalu tidur disana, jarang aku melihatnya bangun. Aku tak menghiraukan. Mengayuh sepeda, melawan beberapa angkutan umum di terminal. Kecepatanku jelas kalah. Rambutku berantakan diterpa angin kendaraan berlalu – lalang di jalan raya.

Kayuhanku semakin kuat dan semakin cepat. Roda sepedaku yang kemarin baru kutambal terasa keras saat melewati beberapa jalan yang berbatu. Tiba – tiba aku mendengar suara ledakan dan roda depanku berhenti berputar. Karena gesekan yang sangat kuat antara roda sepeda dan badan jalan, roda sepedaku meledak dan rusak. Alhasil aku harus menuntun sepedaku beberapa meter untuk sampai di tambal ban sepeda. Aku menunggu sangat lama roda sepedaku diganti. Berkali – kali aku memandangi jam tanganku, dan sekarang sudah pukul 06.25. 20 menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Aku pasti terlambat. Berdiri, menatap sepanjang jalan raya, lalu duduk lagi. Hanya itu yang bisa kulakukan. Karena sudah lelah, aku memilih duduk didekat sepedaku yang rodanya sedang ditambal.

Datang dari arah utara seorang kakek, kumal sekali bajunya. Dia berjalan kearahku, lalu duduk disampingku agak menjauh. Aku takut. Wajah keriputnya seperti sering kulihat setiap hari. Siapa? Ya, ia sangat mirip dengan kakek di pos yang tak terpakai dekat terminal yang kuceritakan tadi. Pakaiannya, kulitnya, rambutnya. Semuanya sangat mirip. Tapi terminal itu berada di selatan tempat ini. Aneh sekali.

“Nak, punya nasi“. Kata kakek itu dengan suara pelan.

“Punya“. Jawabku agak merunduk.

“Boleh saya minta?“. tanya kakek itu.

Sambil membuka tasku, dan mengambil nasi bungkus yang kubawa, aku memberikannya untuk kakek itu. Aku takut. Keringat mulai bercucuran di dahiku. Bertemu kakek yang belum kukenal sebelumnya, dan memberikan bekalku untuknya. Meskipun kakek itu tak melakukan hal buruk padaku, tapi aku tetap takut.

“Terima kasih atas nasi bungkusnya. Nak, hati – hati ya kalau naik sepeda, berdoa dulu. Perempatan sebelah sana agak berbahaya, jadi jangan lewat situ“. Katanya dengan suara yang pelan sambil berdiri dan jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah utara.

Untuk meresponnya, aku memilih untuk tersenyum. Tak mengeluarkan sepatah katapun. Hingga kakek itu pergi dan berlalu. Ia menyuruhku berdoa dan hati – hati jika bersepeda. Siapa sebenarnya kakek itu? Mengapa ia melarangku melewati perempatan itu? Padahal itu satu – satunya jalan tercepat menuju sekolahku. Apa dia ingin menyulitkanku dan membiarkanku terlambat sampai sekolah? Ah, biarkanlah. Lebih baik aku tetap melewati perempatan itu. Aku melihat arlojiku lagi. Astaga! 5 menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Akhirnya, sepedaku selesai di service. Setelah membayar ongkos, aku langsung melanjutkan perjalananku. Tak peduli dengan nasehat kakek tadi, aku berangkat menuju perempatan. Aku melihat lampu menyala hijau. Sambil mengusap keringat, aku bersama kendaraan lain melewati perempatan. Tak disangka, sepeda motor dari arah barat menerobos lampu merah. Tabrakan pun tak dapat dihindarkan. Sepeda motor itu menyerempet sepeda motor yang tepat berada disampingku. Akupun terkena imbasnya. Nasib buruk menimpaku pagi itu.

Aku terbangun kebingungan. Disekelilingku hanya ada mama dan papa, dan tempat yang asing bagiku. Ruangan apa ini? Kepalaku pusing. Seluruh tubuhku merasakan sakit. Lalu, mengapa lenganku di perban? Mengapa aku tak memakai sepatu dan kaus kaki? Ada bekas darah di lengan bajuku. Apa yang terjadi padaku?

“Nin, akhirnya kamu sadar juga, nak. Mama sangat khawatir“. Kata mama memegang tangan kananku sambil menangis.

“Seandainya sepeda motor disebelahmu tak oleng dan menimpa sepedamu, kamu pasti tak sampai masuk rumah sakit, nak“. Sahut papa.

Aku hanya diam sambil melihat ke arah jendela besar, bisa melihat keluar meskipun dalam keadaan terlentang diatas kasur. Kakek itu. Baru saja aku melihatnya berjalan melewati kamar ini. Aku ingat kejadian tadi. Tetesan air mata membasahi pelupuk mata hingga jatuh melewati pelipisku dan akhirnya berakhir di telingaku. Menangis bukan karena kesakitan, tetapi karena menyesal. Aku telah mengabaikan nasehat kakek. Aku lupa berdoa dan aku tetap melewati perempatan itu. Seandainya itu tak terjadi.

Beberapa hari kemudian, aku diperbolehkan pulang ke rumah karena lukaku tak terlalu parah. Keesokan harinya, aku bersekolah kembali. Tapi kali ini ada yang berbeda. Papa masih khawatir jika aku naik sepeda. Takut kejadian itu akan terulang kembali. Alhasil, papa mengantarkanku ke sekolah. Kepalaku masih diperban, tapi luka di lenganku lumayan membaik. Seperti biasa, kami melewati pasar ikan yang penuh dengan bau amis, dan juga tempat pembuangan sampah yang tak kalah baunya. Kami juga melewati terminal dan pos yang tak terpakai di dekat terminal. Sejak aku bertemu dengan kakek yang menasehatiku, aku tak pernah melihat kakek itu lagi di pos dekat terminal. Aku heran. Kemana perginya kakek itu? Misterius sekali. Semoga kejadian itu tak terulang lagi. Tapi kakek itu berjasa sekali, mengingatkanku agar selalu berdoa dan tak pernah melanggar nasehat orangtua.

Aku dan papa mampir ke pengisian bensin. Aku menunggui papa yang sedang membeli bensin untuk sepeda motor miliknya. Dari kejauhan aku melihat seorang kakek tua yang duduk disamping tempat sampah sambil menatap ke arah jalan raya. Ternyata itu kakek yang kemarin. Aku segera menghampirinya dan memberikan sedikit dari uang sakuku.

“Terimakasih nak. Tetap jadilah anak yang berbakti pada orangtua“. Kata kakek itu sambil tersenyum, lalu pergi begitu saja.

Setelah selesai mengisi bensin, aku dan papa kembali melanjutkan perjalanan ke sekolah. Sejak saat itu, aku tak pernah bertemu dengan kakek itu lagi. Entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi. Kakek yang misterius, tapi kata – katanya adalah nasehat.

Minggu, 12 September 2010

CERPEN SAYA

DETIK TERAKHIR


Malam hari ini sangat dingin. Di kawasan sudut kota besar ini, berdirilah rumah yang megah dibilang orang. Ya, itu rumah Ney. Rumah putih yang berada tepat di persimpangan jalan. Ney tinggal sendiri, ayahnya bekerja di Jepang, sedangkan bundanya meninggal saat mereka liburan ke Kanada. Itu terjadi waktu dia masih kecil, kira – kira 11 tahun yang lalu. Di rumah yang sebesar ini, Ney hanya ditemani seorang sahabat, Fre. Ayahnya jarang sekali pulang. Tapi seminggu ini, ayah Ney berada di rumah.

Neyla, biasa dipanggil Ney. Usianya kini genap 17 tahun. Usia yang sangat ia tunggu. Fre adalah sahabat Ney, bisa dibilang sahabat sejati. Mereka bersahabat sejak SD kelas 3, saat keluarga Fre mempunyai masalah dan akhirnya ia dijauhi oleh teman – temannya.

“Fre, kamu mau kemana?“. Tanya Ney.

“Biasa Ney“. Jawab Fre.

“Kamu mau kesana lagi?“. Tanya Ney sambil menghela napas.

Iya lah Ney. Aku nggak bisa sehari nggak kesana“. Kata Fre sambil menepuk pundak Ney.

Fre, kamu kapan berubah?“. Tanya Ney sambil berdiri.

“Aku nggak akan mau berubah Ney“. Jawabnya enteng.

Harus bisa!“. Ney memerintahnya.

“Jangan paksa aku Ney. Aku udah ngelakuin ini sejak kelas 3 SMP, sejak 3 tahun yang lalu“. Jelasnya.

“Aku capek Fre. Apa ini karena kamu broken home?”. Ney mengucapkan kata – kata yang nggak disukai oleh Fre. Fre memandang Ney marah. Tangannya terangkat hendak menampar. Ney menjadi takut. Ney takut ditampar Fre. Tangannya berat seperti tangan Reynald, pacar Ney. Tak tahu beratnya berapa, yang jelas Ney pernah tak sengaja jatuh karena senggolan Fre. Ney sudah tak tahu lagi cara untuk menyembuhkan Fre. Ney menyerah.

Nggak Ney, aku nggak akan nampar kamu“. Kata Fre memeluk Ney. Dan berjalan menuju mobilnya.

Freta. Kemana sosokmu yang feminim itu? Apa karena kamu tak lagi mendapat kasih sayang dari ibu kau bertindak seperti ini? Gadis feminim yang pernah Ney kenal rasanya hanya tinggal kenangan. Fre bersikeras tidak akan mau berubah.

Setelah Fre pergi, Ney memilih untuk masuk ke dalam rumah. Setidaknya Ney tidak sendirian pada minggu ini. Masih ada ayah Ney yang pulang dari Jepang selama seminggu. Ney menyusuri taman menuju teras rumahku, dan Ney duduk di kursi taman, merenung sendirian. Memikirkan apa yang hendak dilakukan Fre bersama teman – temannya disana. Apa Fre bersenang – senang atau malah menyiksa dirinya sendiri. Ney mengusap wajahku yang penuh dengan keringat dingin. Ney khawatir dengan Fre. Gara – gara memikirkan Fre, Ney jadi lupa dengan Reynald.

Sementara itu, Fre telah sampai di club tempat biasa ia menghabiskan waktunya untuk berfoya – foya. Disana ia selalu merokok, dan tak jarang dia juga meminum alkohol. Ternyata perkataan ayah Ney benar. Di club yang sama, Ella teman sebangku Ney juga berada disana. Tapi dia tidak seperti Fre, dia hanya menjadi pelayan disana. Ella tahu perilaku Fre saat di club. Tak jarang ketika Fre mabuk, Ella yang selalu membawa Fre pulang kerumahnya.

Keesokan harinya, Ney berangkat sekolah. Seperti biasa, Reynald pacar Ney selalu menjeput Ney pagi - pagi sekali. Ayah Ney sudah kembali ke Jepang tadi subuh karena ada hal yang mendadak. Terpaksa hari ini Ney tak sarapan pagi karena bahan makanan telah habis dan lupa berbelanja.

Setelah sampai sekolah, mereka berdua berjalan bersama menyusuri beberapa ruang kelas X, dan akhirnya mereka berpisah di depan ruang kelas XII-1. Ney adalah siswi kelas XII-1, sedangkan Reynald adalah siswa kelas XII-6. Maka, Ney masuk kelas terlebih dahulu, sedangkan Reynald menuju ke lantai 2 menuju ke kelasnya.

Ney langsung duduk di bangkunya. Melihat kearah belakangnya, rupanya Fre belum datang. Sementara Ella teman sebangku Ney baru saja datang, dan langsung berbicara pada Ney.

“Ney, lebih baik kamu nggak usah deh, berteman dengan Fre“. Kata Ella yang baru saja duduk di bangkunya.

“Udahlah El, aku bisa jaga diri kok“. Ney menjawabnya dengan tenang.

“Kemarin Fre mabuk lagi, dan akhirnya aku yang harus membawanya pulang“. Ella menggerutu.

Oh iya, kapan ibumu bisa bekerja dirumahku? Aku kesepian lho El“. Ney berusaha mengalihkan perhatian. Ella memandang Ney sayang.

“Oh iya, pasti hari ini Fre tidak masuk lagi”. Kata Ella.

Kok kamu tahu?”. Ney heran.

“Ya iyalah, kemarin malam Fre mabuk berat“. Ella menjelaskan.

“Oh, begitu“. Jawab Ney singkat.

“Nah, sebaiknya kamu hati – hati ya Ney“. Kata Ella.

Aku selalu melihat Fre mempunyai banyak teman laki – laki. Tapi kenapa dia belum mempunyai pacar? Apa dia nggak waras?”. Kata Ella.

“Hush! Ngomong apa kamu ini El”. Ney membentak Ella

Selama ini Ney selalu berfikir, apa yang terjadi dengan sahabatnya itu? Apa benar perkataan Ella tadi? Hanya waktu yang bisa menjawab. Kalaupun iya, Ney akan tetap selalu ada disamping Fre, dan terus membimbing Fre. Kalaupun tidak, Ney tidak akan meninggalkan Fre.

Bel pulang pun berbunyi. Reynald menghampiri ke kelas Ney untuk mengajak pulang. Ney mencoba untuk bercerita pada Raynald.

“Hmm.. Rey, Fre itu cantik nggak sih?”. Tanya Ney tiba – tiba.

“Menurutku sih dia cantik, tapi dia nggak bisa jaga diri, dan akhirnya dia salah jalan”. Jawab Reynald.

“Tapi, kenapa nggak satupun laki – laki di sekolah ini yang mau pacaran dengan Fre?”. Tanya Ney.

“Nggak ada yang mau mungkin. Atau mereka ilfil dengan tingkah laku Fre yang nggak pernah nunjukkin jati dirinya sebagai seorang perempuan. Sifatnya cowok banget!”. Rey menjelaskan.

“Ow”. Jawab Ney singkat.

Bukannya Fre selalu main kerumahmu ya? Aku aja kalah sama dia“. Kata Rey.

“Maksudmu?“. Ney heran.

Maksudku, Fre yang hanya sahabatmu selalu kerumahmu tiap hari, sedangkan aku yang pacarmu? Jarang main kerumahmu“. Jawab Rey.

Hahaaha... Kan tiap hari kamu menjemputku kan? Berarti sama aja“. Kata Ney.

Saat malam hari, Fre kembali mengunjungi Ney dirumahnya. Kali ini dia wangi, pasti memakai parfum. Tapi kali ini ada yang aneh dengan Fre. Ia duduk disamping Ney, serta membelai rambut panjang Ney. Persis sekali dengan adegan orang berpacaran. Tiba – tiba, Fre hendak mencium pipi Ney. Ney yang kaget, langsung berdiri dan menampar Fre tanpa peduli dirinya lebih lemah daripada Fre. Ney tak tahu apa yang sedang merasuki diri Fre. Karena takut, dia langsung mengusir Fre dan memilih untuk menyendiri dirumah.

Kejadian itu tak berlangsung sekali, hampir setiap kali Fre berkunjung ke rumah Ney. Tapi Ney tetap menolaknya. Sampai suatu hari, Fre mengatakan sesuatu yang mengejutkan Ney.

“Ney, aku boleh ngomong sesuatu ke kamu nggak?”. Tanya Fre.

“Ngomong aja. Nggak ada yang ngelarang kok”. Jawab Ney ketus.

Kamu janji nggak akan marah?“. Tanya Fre lagi.

“Hmm.. Sebenernya.. akuu… akuu..”. kata Fre.

“Kamu itu ngomong apa sih? Nggak jelas banget!“. Kata Ney yang semakin emosi.

Aku suka kamu Ney, aku ingin jadi pacar kamu“. Kata Fre.

Apa? Apa kamu sudah gila Fre? Fre, kita ini sama – sama perempuan, di luar sana masih banyak laki – laki yang mungkin menyukaimu. Tapi kenapa harus aku?“. Tanya Ney yang mulai meneteskan air mata.

“Aku ingin sama kamu”. Jawab Fre singkat.

Tapi maaf Fre, aku nggak bisa“. Kata Ney sambil memeluk Fre.

“Kenapa?”. Tanya Fre.

Aku sudah menganggapmu seperti kakakku. Kita sudah bersama sejak lama, dan yang paling penting aku masih menginginkan sosok laki – laki disampingku”. Ney menjelaskan.

“Kau jahat!”. Kata Fre.

Setelah mengucapkan itu, Fre langsung pergi meninggalkan rumah Ney. Dia pergi menuju rumah Reynald tanpa sepengetahuan Ney. Ia melampiaskan kemarahan kepada Reynald karena Ney menolaknya. Dia memukul dan menampar Reynald. Mencaci maki, dan menganggap Reynald adalah penyebabnya. Tapi sekuat apapun tenaga perempuan, ia tetap kalah dengan tenaga laki – laki. Reynald memukul balik Fre, yang langsung terjatuh. Keadaan Reynald telah babak belur, begitu pula dengan Fre. Karena merasa kalah, Fre kabur meninggalkan Reynald.

Fre langsung pulang ke rumahnya. Dia melampiaskan kembali kemarahannya pada jajaran botol anggur yang tertata rapi di meja. Membantingnya, menendangnya hingga botol tersebut pecah dan serpihan kaca berserakan di lantai. Fre terus menangis tak henti – hentinya. Cinta terlarangnya kepada Ney yang membuat Fre melakukan hal ini. Lalu, dia mengambil salah satu serpihan kaca yang berserakan di lantai, dan menyayat lengannnya dengan kaca yang telah dipegangnya. Tanpa sengaja, urat nadi yang berada di pergelangan tangan Fre ikut tersayat. Pendarahan pun tak bisa dihentikan. Tak ada seorangpun yang menolong, karena Fre tinggal seorang diri. Fre tewas karena pendarahan yang parah.

Dua hari kemudian, Ney tak tahu dimana Fre. Ella juga tak pernah lagi bertemu dengan Fre di club, Reynald pun heran. Akhirnya, Ney dan Reynald memutuskan untuk mengunjungi rumah Fre. Setelah sampai disana, Ney beberapa kali memencet bel namun tak ada yang menjawab. Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah Fre. Setelah membuka pintu utama yang tidak dikunci, Ney langsung jatuh pingsan. Mereka menemukan Fre tak bernyawa. Reynald pun menghubungi polisi dan membawa Ney ke rumah sakit. Mayat Fre sudah ditangani polisi.

Keesokan harinya Setelah Fre dimakamkan, Ney tak henti – hentinya menangis. Dia sangat menyesal tak bisa menrubah Fre menjadi orang yang baik. Bahkan, di saat terakhir Fre, Ney tak ada disampingnya. Ella dan Reynald pun juga bersedih atas kematian Fre. Rumah Fre kini tak berpenghuni lagi. Hanya ada rumput liar yang menjulang tinggi, kelelawar, dan serangga yang menjadi penghuninya, dan mungkin ada yang lain.

Ney merasa bersalah. Untuk menebus rasa bersalah itu, ia dan Reynald memutuskan untuk selalu merawat makam Fre dan mendoakannya. Dengan begitu, Ney selalu ada di dekat Fre sampai kapanpun.


The End

CERPEN - CERPENKU

DETIK TERAKHIR


Malam hari ini sangat dingin. Di kawasan sudut kota besar ini, berdirilah rumah yang megah dibilang orang. Ya, itu rumah Ney. Rumah putih yang berada tepat di persimpangan jalan. Ney tinggal sendiri, ayahnya bekerja di Jepang, sedangkan bundanya meninggal saat mereka liburan ke Kanada. Itu terjadi waktu dia masih kecil, kira – kira 11 tahun yang lalu. Di rumah yang sebesar ini, Ney hanya ditemani seorang sahabat, Fre. Ayahnya jarang sekali pulang. Tapi seminggu ini, ayah Ney berada di rumah.

Neyla, biasa dipanggil Ney. Usianya kini genap 17 tahun. Usia yang sangat ia tunggu. Fre adalah sahabat Ney, bisa dibilang sahabat sejati. Mereka bersahabat sejak SD kelas 3, saat keluarga Fre mempunyai masalah dan akhirnya ia dijauhi oleh teman – temannya.

“Fre, kamu mau kemana?“. Tanya Ney.

“Biasa Ney“. Jawab Fre.

“Kamu mau kesana lagi?“. Tanya Ney sambil menghela napas.

Iya lah Ney. Aku nggak bisa sehari nggak kesana“. Kata Fre sambil menepuk pundak Ney.

Fre, kamu kapan berubah?“. Tanya Ney sambil berdiri.

“Aku nggak akan mau berubah Ney“. Jawabnya enteng.

Harus bisa!“. Ney memerintahnya.

“Jangan paksa aku Ney. Aku udah ngelakuin ini sejak kelas 3 SMP, sejak 3 tahun yang lalu“. Jelasnya.

“Aku capek Fre. Apa ini karena kamu broken home?”. Ney mengucapkan kata – kata yang nggak disukai oleh Fre. Fre memandang Ney marah. Tangannya terangkat hendak menampar. Ney menjadi takut. Ney takut ditampar Fre. Tangannya berat seperti tangan Reynald, pacar Ney. Tak tahu beratnya berapa, yang jelas Ney pernah tak sengaja jatuh karena senggolan Fre. Ney sudah tak tahu lagi cara untuk menyembuhkan Fre. Ney menyerah.

Nggak Ney, aku nggak akan nampar kamu“. Kata Fre memeluk Ney. Dan berjalan menuju mobilnya.

Freta. Kemana sosokmu yang feminim itu? Apa karena kamu tak lagi mendapat kasih sayang dari ibu kau bertindak seperti ini? Gadis feminim yang pernah Ney kenal rasanya hanya tinggal kenangan. Fre bersikeras tidak akan mau berubah.

Setelah Fre pergi, Ney memilih untuk masuk ke dalam rumah. Setidaknya Ney tidak sendirian pada minggu ini. Masih ada ayah Ney yang pulang dari Jepang selama seminggu. Ney menyusuri taman menuju teras rumahku, dan Ney duduk di kursi taman, merenung sendirian. Memikirkan apa yang hendak dilakukan Fre bersama teman – temannya disana. Apa Fre bersenang – senang atau malah menyiksa dirinya sendiri. Ney mengusap wajahku yang penuh dengan keringat dingin. Ney khawatir dengan Fre. Gara – gara memikirkan Fre, Ney jadi lupa dengan Reynald.

Sementara itu, Fre telah sampai di club tempat biasa ia menghabiskan waktunya untuk berfoya – foya. Disana ia selalu merokok, dan tak jarang dia juga meminum alkohol. Ternyata perkataan ayah Ney benar. Di club yang sama, Ella teman sebangku Ney juga berada disana. Tapi dia tidak seperti Fre, dia hanya menjadi pelayan disana. Ella tahu perilaku Fre saat di club. Tak jarang ketika Fre mabuk, Ella yang selalu membawa Fre pulang kerumahnya.

Keesokan harinya, Ney berangkat sekolah. Seperti biasa, Reynald pacar Ney selalu menjeput Ney pagi - pagi sekali. Ayah Ney sudah kembali ke Jepang tadi subuh karena ada hal yang mendadak. Terpaksa hari ini Ney tak sarapan pagi karena bahan makanan telah habis dan lupa berbelanja.

Setelah sampai sekolah, mereka berdua berjalan bersama menyusuri beberapa ruang kelas X, dan akhirnya mereka berpisah di depan ruang kelas XII-1. Ney adalah siswi kelas XII-1, sedangkan Reynald adalah siswa kelas XII-6. Maka, Ney masuk kelas terlebih dahulu, sedangkan Reynald menuju ke lantai 2 menuju ke kelasnya.

Ney langsung duduk di bangkunya. Melihat kearah belakangnya, rupanya Fre belum datang. Sementara Ella teman sebangku Ney baru saja datang, dan langsung berbicara pada Ney.

“Ney, lebih baik kamu nggak usah deh, berteman dengan Fre“. Kata Ella yang baru saja duduk di bangkunya.

“Udahlah El, aku bisa jaga diri kok“. Ney menjawabnya dengan tenang.

“Kemarin Fre mabuk lagi, dan akhirnya aku yang harus membawanya pulang“. Ella menggerutu.

Oh iya, kapan ibumu bisa bekerja dirumahku? Aku kesepian lho El“. Ney berusaha mengalihkan perhatian. Ella memandang Ney sayang.

“Oh iya, pasti hari ini Fre tidak masuk lagi”. Kata Ella.

Kok kamu tahu?”. Ney heran.

“Ya iyalah, kemarin malam Fre mabuk berat“. Ella menjelaskan.

“Oh, begitu“. Jawab Ney singkat.

“Nah, sebaiknya kamu hati – hati ya Ney“. Kata Ella.

Aku selalu melihat Fre mempunyai banyak teman laki – laki. Tapi kenapa dia belum mempunyai pacar? Apa dia nggak waras?”. Kata Ella.

“Hush! Ngomong apa kamu ini El”. Ney membentak Ella

Selama ini Ney selalu berfikir, apa yang terjadi dengan sahabatnya itu? Apa benar perkataan Ella tadi? Hanya waktu yang bisa menjawab. Kalaupun iya, Ney akan tetap selalu ada disamping Fre, dan terus membimbing Fre. Kalaupun tidak, Ney tidak akan meninggalkan Fre.

Bel pulang pun berbunyi. Reynald menghampiri ke kelas Ney untuk mengajak pulang. Ney mencoba untuk bercerita pada Raynald.

“Hmm.. Rey, Fre itu cantik nggak sih?”. Tanya Ney tiba – tiba.

“Menurutku sih dia cantik, tapi dia nggak bisa jaga diri, dan akhirnya dia salah jalan”. Jawab Reynald.

“Tapi, kenapa nggak satupun laki – laki di sekolah ini yang mau pacaran dengan Fre?”. Tanya Ney.

“Nggak ada yang mau mungkin. Atau mereka ilfil dengan tingkah laku Fre yang nggak pernah nunjukkin jati dirinya sebagai seorang perempuan. Sifatnya cowok banget!”. Rey menjelaskan.

“Ow”. Jawab Ney singkat.

Bukannya Fre selalu main kerumahmu ya? Aku aja kalah sama dia“. Kata Rey.

“Maksudmu?“. Ney heran.

Maksudku, Fre yang hanya sahabatmu selalu kerumahmu tiap hari, sedangkan aku yang pacarmu? Jarang main kerumahmu“. Jawab Rey.

Hahaaha... Kan tiap hari kamu menjemputku kan? Berarti sama aja“. Kata Ney.

Saat malam hari, Fre kembali mengunjungi Ney dirumahnya. Kali ini dia wangi, pasti memakai parfum. Tapi kali ini ada yang aneh dengan Fre. Ia duduk disamping Ney, serta membelai rambut panjang Ney. Persis sekali dengan adegan orang berpacaran. Tiba – tiba, Fre hendak mencium pipi Ney. Ney yang kaget, langsung berdiri dan menampar Fre tanpa peduli dirinya lebih lemah daripada Fre. Ney tak tahu apa yang sedang merasuki diri Fre. Karena takut, dia langsung mengusir Fre dan memilih untuk menyendiri dirumah.

Kejadian itu tak berlangsung sekali, hampir setiap kali Fre berkunjung ke rumah Ney. Tapi Ney tetap menolaknya. Sampai suatu hari, Fre mengatakan sesuatu yang mengejutkan Ney.

“Ney, aku boleh ngomong sesuatu ke kamu nggak?”. Tanya Fre.

“Ngomong aja. Nggak ada yang ngelarang kok”. Jawab Ney ketus.

Kamu janji nggak akan marah?“. Tanya Fre lagi.

“Hmm.. Sebenernya.. akuu… akuu..”. kata Fre.

“Kamu itu ngomong apa sih? Nggak jelas banget!“. Kata Ney yang semakin emosi.

Aku suka kamu Ney, aku ingin jadi pacar kamu“. Kata Fre.

Apa? Apa kamu sudah gila Fre? Fre, kita ini sama – sama perempuan, di luar sana masih banyak laki – laki yang mungkin menyukaimu. Tapi kenapa harus aku?“. Tanya Ney yang mulai meneteskan air mata.

“Aku ingin sama kamu”. Jawab Fre singkat.

Tapi maaf Fre, aku nggak bisa“. Kata Ney sambil memeluk Fre.

“Kenapa?”. Tanya Fre.

Aku sudah menganggapmu seperti kakakku. Kita sudah bersama sejak lama, dan yang paling penting aku masih menginginkan sosok laki – laki disampingku”. Ney menjelaskan.

“Kau jahat!”. Kata Fre.

Setelah mengucapkan itu, Fre langsung pergi meninggalkan rumah Ney. Dia pergi menuju rumah Reynald tanpa sepengetahuan Ney. Ia melampiaskan kemarahan kepada Reynald karena Ney menolaknya. Dia memukul dan menampar Reynald. Mencaci maki, dan menganggap Reynald adalah penyebabnya. Tapi sekuat apapun tenaga perempuan, ia tetap kalah dengan tenaga laki – laki. Reynald memukul balik Fre, yang langsung terjatuh. Keadaan Reynald telah babak belur, begitu pula dengan Fre. Karena merasa kalah, Fre kabur meninggalkan Reynald.

Fre langsung pulang ke rumahnya. Dia melampiaskan kembali kemarahannya pada jajaran botol anggur yang tertata rapi di meja. Membantingnya, menendangnya hingga botol tersebut pecah dan serpihan kaca berserakan di lantai. Fre terus menangis tak henti – hentinya. Cinta terlarangnya kepada Ney yang membuat Fre melakukan hal ini. Lalu, dia mengambil salah satu serpihan kaca yang berserakan di lantai, dan menyayat lengannnya dengan kaca yang telah dipegangnya. Tanpa sengaja, urat nadi yang berada di pergelangan tangan Fre ikut tersayat. Pendarahan pun tak bisa dihentikan. Tak ada seorangpun yang menolong, karena Fre tinggal seorang diri. Fre tewas karena pendarahan yang parah.

Dua hari kemudian, Ney tak tahu dimana Fre. Ella juga tak pernah lagi bertemu dengan Fre di club, Reynald pun heran. Akhirnya, Ney dan Reynald memutuskan untuk mengunjungi rumah Fre. Setelah sampai disana, Ney beberapa kali memencet bel namun tak ada yang menjawab. Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah Fre. Setelah membuka pintu utama yang tidak dikunci, Ney langsung jatuh pingsan. Mereka menemukan Fre tak bernyawa. Reynald pun menghubungi polisi dan membawa Ney ke rumah sakit. Mayat Fre sudah ditangani polisi.

Keesokan harinya Setelah Fre dimakamkan, Ney tak henti – hentinya menangis. Dia sangat menyesal tak bisa menrubah Fre menjadi orang yang baik. Bahkan, di saat terakhir Fre, Ney tak ada disampingnya. Ella dan Reynald pun juga bersedih atas kematian Fre. Rumah Fre kini tak berpenghuni lagi. Hanya ada rumput liar yang menjulang tinggi, kelelawar, dan serangga yang menjadi penghuninya, dan mungkin ada yang lain.

Ney merasa bersalah. Untuk menebus rasa bersalah itu, ia dan Reynald memutuskan untuk selalu merawat makam Fre dan mendoakannya. Dengan begitu, Ney selalu ada di dekat Fre sampai kapanpun.


The End

Pengikut