WELCOME TO MERRY'S BLOG

MERRY'S BLOG

Senin, 27 Desember 2010

MAAF

Mentari pagi bersinar dengan indahnya. Yapp, indah karena hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah sebelum liburan semester dimulai. Hmm… apa yang hari ini kulakukan setelah pulang sekolah? Kalo tidur, kan masih pagi! Kalo main ke rumah Wenna temanku, huh bosen. Yasudahlah, lebih baik online ke warnet aja. Hhahaha….
Aku bersiap untuk berangkat sekolah. Tak lupa membawa handphone untuk penghilang stress di kelas. Yaah.. Aku harus segera berangkat sebelum pak satpam menutup pintunya.
“Rin, ayo buruan! Uda jam tujuh nih”. Kata Tika yang sudah duduk di motornya.
“Iya iya, Ka”. Daripada Tika terus mengomel, lebih baik aku naik ke motornya.
Hmm… sepanjang perjalanan Tika hanya diam. Aku ngomong, nggak direspon. Aku tanya, nggak dijawab. Dari kaca spion aku hanya melihat Tika yang berwajah menakutkan, dengan alis yang ditekuk ke atas. Aku hanya bengong lihat wajah Tika. Apa hanya gara – gara aku tadi? Padahal aku baru telat 5 menit, dia udah gini. Perjalanan ke sekolah serasa lama.
Wahh.. akhirnya kita sampai di sekolah. Tapi Tika tetap saja diam. Aku berjalan di belakangnya. Menoleh padaku pun tidak.
“Ka, kamu kenapa seh?”. Aku bertanya pada Tika.
“Nggak kok, bukan kamu”. Jawabnya dengan ketus.
“Lha terus? Kok kamu?”. Aku tak meneruskan kata – kataku.
“Mmm.. dulu ya”. Kata Tika sambil menepuk punggungku dan tersenyum, lalu pergi.
Yasudahlah, mungkin dia sibuk. Tapi, dia kan satu kelas dengan Evan? Kok Evan nggak pernah cerita ke aku kalau dia sibuk? Aku jadi sungkan kalau sms dengannya. Aku ngganggu. Yapp… Berjalan melewati lorong sekolah menuju kelasku memang sangat jauh. Pastinya aku lewat di depan kelas Evan dan Tika, yaitu IX-C. Dengan ramah aku menyapa Tika yang sedang berdiri di depan pintu, tapi sayang aku tak direspon. Bersamaan dengan Evan yang masuk ke kelas, kami berpapasan.
“Maaf Van, nggak sengaja”. Kataku sambil mengambil selembar foto yang jatuh dari tangan Evan.
“Iya, aku juga minta maaf Ririn”. Jawabnya sambil tersenyum.
“Ini punyamu, tadi jatuh”. Aku memberikan foto itu pada Evan.
Wajah shock mengubah senyumnya. Evan terlihat seperti orang yang kepergok nyuri ayam tetangga. Aku hanya tersenyum lalu pergi ke kelasku.
Sesampainya di kelas, aku langsung diam melihat keadaan kelasku, kela IX-A. Bangku tak ada, pajangan pun porak – poranda. Hanya ada lukisan yang dibuat para siswa, dan pahatan – pahatan dari kayu dan sabun yang tentunya dibuat para siswa juga. Mungkinkah ini kelasku?
“Hei, Rin! Kau salah masuk kawan!”. Seseorang memanggilku.
Lalu aku melihat ke arah atas, melihat papan nama untuk ruangan, dan apa? Ternyata ini ruang seni rupa! Lalu kelasku dimana? Aku langsung menunduk karena malu.

** TO BE CONTINUE **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut