Mentari pagi bersinar dengan indahnya. Yapp, indah karena hari ini adalah hari terakhir masuk sekolah sebelum liburan semester dimulai. Hmm… apa yang hari ini kulakukan setelah pulang sekolah? Kalo tidur, kan masih pagi! Kalo main ke rumah Wenna temanku, huh bosen. Yasudahlah, lebih baik online ke warnet aja. Hhahaha….
Aku bersiap untuk berangkat sekolah. Tak lupa membawa handphone untuk penghilang stress di kelas. Yaah.. Aku harus segera berangkat sebelum pak satpam menutup pintunya.
“Rin, ayo buruan! Uda jam tujuh nih”. Kata Tika yang sudah duduk di motornya.
“Iya iya, Ka”. Daripada Tika terus mengomel, lebih baik aku naik ke motornya.
Hmm… sepanjang perjalanan Tika hanya diam. Aku ngomong, nggak direspon. Aku tanya, nggak dijawab. Dari kaca spion aku hanya melihat Tika yang berwajah menakutkan, dengan alis yang ditekuk ke atas. Aku hanya bengong lihat wajah Tika. Apa hanya gara – gara aku tadi? Padahal aku baru telat 5 menit, dia udah gini. Perjalanan ke sekolah serasa lama.
Wahh.. akhirnya kita sampai di sekolah. Tapi Tika tetap saja diam. Aku berjalan di belakangnya. Menoleh padaku pun tidak.
“Ka, kamu kenapa seh?”. Aku bertanya pada Tika.
“Nggak kok, bukan kamu”. Jawabnya dengan ketus.
“Lha terus? Kok kamu?”. Aku tak meneruskan kata – kataku.
“Mmm.. dulu ya”. Kata Tika sambil menepuk punggungku dan tersenyum, lalu pergi.
Yasudahlah, mungkin dia sibuk. Tapi, dia kan satu kelas dengan Evan? Kok Evan nggak pernah cerita ke aku kalau dia sibuk? Aku jadi sungkan kalau sms dengannya. Aku ngganggu. Yapp… Berjalan melewati lorong sekolah menuju kelasku memang sangat jauh. Pastinya aku lewat di depan kelas Evan dan Tika, yaitu IX-C. Dengan ramah aku menyapa Tika yang sedang berdiri di depan pintu, tapi sayang aku tak direspon. Bersamaan dengan Evan yang masuk ke kelas, kami berpapasan.
“Maaf Van, nggak sengaja”. Kataku sambil mengambil selembar foto yang jatuh dari tangan Evan.
“Iya, aku juga minta maaf Ririn”. Jawabnya sambil tersenyum.
“Ini punyamu, tadi jatuh”. Aku memberikan foto itu pada Evan.
Wajah shock mengubah senyumnya. Evan terlihat seperti orang yang kepergok nyuri ayam tetangga. Aku hanya tersenyum lalu pergi ke kelasku.
Sesampainya di kelas, aku langsung diam melihat keadaan kelasku, kela IX-A. Bangku tak ada, pajangan pun porak – poranda. Hanya ada lukisan yang dibuat para siswa, dan pahatan – pahatan dari kayu dan sabun yang tentunya dibuat para siswa juga. Mungkinkah ini kelasku?
“Hei, Rin! Kau salah masuk kawan!”. Seseorang memanggilku.
Lalu aku melihat ke arah atas, melihat papan nama untuk ruangan, dan apa? Ternyata ini ruang seni rupa! Lalu kelasku dimana? Aku langsung menunduk karena malu.
** TO BE CONTINUE **
WELCOME TO MERRY'S BLOG
MERRY'S BLOG
Senin, 27 Desember 2010
Rabu, 01 Desember 2010
ZA
Hari sudah mulai gelap. Hembusan angin malam seakan berkata padaku, “Pulanglah, semua mencarimu”. Hmm.. Mereka semua menyebalkan. Emosiku selalu meledak ketika dirumah. Cemoohan, suara keras, dan rintihan kekalahan selalu menyelimuti rumah kecil nan reyot, yang menggunakan air asin untuk beraktivitas. Itu rumahku. Cahaya bulan dan lampu minyak yang membuatnya tampak.
Peristiwa ini dimulai 5 tahun lalu. Kami hidup dalam keluarga sederhana tapi kaya akan kegembiraan. Hanya ada ayah, ibu, dan aku. Kadang kami bermain dengan ombak, memetik buah kelapa muda, hingga membantu ayah menyiapkan jala. Aku menulis sebuah kata di kapal ayah, Mukjizat. Nama indah yang kami beri pada kapal tersebut karena selalu membantu ayah pergi melaut.
Suatu malam Setelah terjadi badai, ayah memutuskan untuk melaut lagi, karena bahan makanan dirumah telah habis. Hanya itu cara ayah mencari nafkah.
“Ayah, jangan melaut dulu. Badai bisa kembali”. Ibu memohon.
“Kalau aku tidak melaut, mau makan apa kita? Lupakan masalah badai!“. Bentak ayah.
“Tapi..“. Ibu menghentikan pembicaraan.
“Doakan saja aku mendapat banyak ikan”. Jawab ayah.
Aku mendengar pembicaraan mereka dari teras rumah. Aku hanya diam. Perkataan ibu saja tak didengar, apalagi aku? Ayah hanya menatapku dari kejauhan, lalu pergi lewat pintu belakang menuju ke pantai. Ibu juga mengantarnya. Berharap ayah kembali dan menghapus niatnya untuk melaut, aku menunggunya disini. Ia pun tak kunjung datang. Setelah kulihat ke pantai, kapal ayah sudah berlayar jauh. Semua ini menjadi sia – sia.
Hari demi hari telah terlewati, tapi ayah tak kunjung datang. Akhir – akhir ini, ibu mulai sakit – sakitan. Mungkin karena tak terbiasa hidup tanpa ayah terlalu lama. Setiap kali kulihat kea rah laut, aku berharap ayah datang. Hingga 3 bulan kemudian, ayah tak juga datang. Kini ibu sulit bangun dari kasurnya.
Tak tega aku melihat ibu terbaring lemah di kamar, berharap tentang ayah. Aku ingin sekali menangis, tapi aku malu pada ibu. Masih diberi cobaan sedikit, sudah menyerah.
“Nak, bisakah kamu mencari ikan? Ibu lapar“. Kata ibu.
“Baik bu“.
Aku segera menuju ke laut untuk mencari ikan. Ketika sampai di pantai, aku bingung dengan apa yang kulakukan selanjutnya. Ayah tak pernah mau mengajariku. Aduh, kapan aku bisa berguna untuk orang lain? Tiba – tiba, kakiku menyentuh sesuatu yang tak lin adalah serpihan kayu. Kuambil kayu tersebut. Astaga! Ada tulisan ZA di kayu itu. Sepertinya tulisanku, mirip dengan apa yang kutulis di kapal ayah. Serpihan dari tulisan MUKJIZAT. Tuhan, apa yang terjadi pada ayah?
Aku berlari ke rumah dan membawa kayu itu, dan akan kutunjukkan pada ibu. Kubuka pintu belakang rumah sambil memanggil ibu,“Bu, ibu, Lily punya kabar“. Tak ada jawaban. Aku menuju ke kamar dan melihat ibu tertidur. Kugoyang – goyangkan tubuhnya, kusentuh pipinya, tetapi ia tak juga bangun. Seluruh tubuhnya dingin, kaku. Setelah aku memeriksa denyut nadinya, seluruh tubuhku lemas. Seakan tak percaya kejadian ini. Aku menemukan serpihan kayu bertuliskan ZA, yang tak lain adalah serpihan dari kapal ayah. Dan kini, aku melihat ibu. Mereka berdua pergi meninggalkanku. Mereka kejam, pergi tanpa aku.
Sejak mereka pergi, bibi Jane tinggal di rumah untuk merawatku. Sedikit lebih merasakan hidup dengan cerahnya lampu. Tetapi entah mengapa semua itu membuatku bersedih. Aku tak lagi kaya akan kebahagiaan.
Sekarang, tepat malam ini, di pantai yang dingin aku berdoa sambil merintih kelaparan akibat hukuman bibi Jane. “Ayah, ibu, tolong jemputlah aku disini”, kataku hingga menangis. Dengan perlahan, aku mulai menundukkan tubuhku ke bawah, lalu memejamkan mata, dan berteriak bersama angin yang kencang. Aku berada tepat di bibir pantai, lutut hingga bagian bawah kakiku sudah terendam air laut. Aduh, aku lupa. Pada bulan ini air laut pasang. Ombak besar mulai datang. Aku harus cepat berlari ke daratan. Semakin cepat, semakin cepat, hingga aku terpeleset. Tidak, lututku berdarah terkena batu. Tolong! Arus ombak membawaku menuju laut. Aku berusaha beranjak dan berlari kembali. Sial, ada ombak lebih besar menuju kesini. Ayah, ibu, bibi Jane, maafkan aku. Tak sanggup lagi aku berdiri. Tuhan, tolonglah aku. Aku tak bisa berenang. Kurasakan air asin memenuhi tubuhku. Kini kuserahkan semua padaMu. Entah aku hidup atau mati. Aku menyerah. Selamat tinggal semuanya!.
Langganan:
Postingan (Atom)