WELCOME TO MERRY'S BLOG

MERRY'S BLOG

Rabu, 01 Desember 2010

ZA

Hari sudah mulai gelap. Hembusan angin malam seakan berkata padaku, “Pulanglah, semua mencarimu”. Hmm.. Mereka semua menyebalkan. Emosiku selalu meledak ketika dirumah. Cemoohan, suara keras, dan rintihan kekalahan selalu menyelimuti rumah kecil nan reyot, yang menggunakan air asin untuk beraktivitas. Itu rumahku. Cahaya bulan dan lampu minyak yang membuatnya tampak.
Peristiwa ini dimulai 5 tahun lalu. Kami hidup dalam keluarga sederhana tapi kaya akan kegembiraan. Hanya ada ayah, ibu, dan aku. Kadang kami bermain dengan ombak, memetik buah kelapa muda, hingga membantu ayah menyiapkan jala. Aku menulis sebuah kata di kapal ayah, Mukjizat. Nama indah yang kami beri pada kapal tersebut karena selalu membantu ayah pergi melaut.
Suatu malam Setelah terjadi badai, ayah memutuskan untuk melaut lagi, karena bahan makanan dirumah telah habis. Hanya itu cara ayah mencari nafkah.
“Ayah, jangan melaut dulu. Badai bisa kembali”. Ibu memohon.
“Kalau aku tidak melaut, mau makan apa kita? Lupakan masalah badai!“. Bentak ayah.
“Tapi..“. Ibu menghentikan pembicaraan.
“Doakan saja aku mendapat banyak ikan”. Jawab ayah.
Aku mendengar pembicaraan mereka dari teras rumah. Aku hanya diam. Perkataan ibu saja tak didengar, apalagi aku? Ayah hanya menatapku dari kejauhan, lalu pergi lewat pintu belakang menuju ke pantai. Ibu juga mengantarnya. Berharap ayah kembali dan menghapus niatnya untuk melaut, aku menunggunya disini. Ia pun tak kunjung datang. Setelah kulihat ke pantai, kapal ayah sudah berlayar jauh. Semua ini menjadi sia – sia.
Hari demi hari telah terlewati, tapi ayah tak kunjung datang. Akhir – akhir ini, ibu mulai sakit – sakitan. Mungkin karena tak terbiasa hidup tanpa ayah terlalu lama. Setiap kali kulihat kea rah laut, aku berharap ayah datang. Hingga 3 bulan kemudian, ayah tak juga datang. Kini ibu sulit bangun dari kasurnya.
Tak tega aku melihat ibu terbaring lemah di kamar, berharap tentang ayah. Aku ingin sekali menangis, tapi aku malu pada ibu. Masih diberi cobaan sedikit, sudah menyerah.
“Nak, bisakah kamu mencari ikan? Ibu lapar“. Kata ibu.
“Baik bu“.
Aku segera menuju ke laut untuk mencari ikan. Ketika sampai di pantai, aku bingung dengan apa yang kulakukan selanjutnya. Ayah tak pernah mau mengajariku. Aduh, kapan aku bisa berguna untuk orang lain? Tiba – tiba, kakiku menyentuh sesuatu yang tak lin adalah serpihan kayu. Kuambil kayu tersebut. Astaga! Ada tulisan ZA di kayu itu. Sepertinya tulisanku, mirip dengan apa yang kutulis di kapal ayah. Serpihan dari tulisan MUKJIZAT. Tuhan, apa yang terjadi pada ayah?
Aku berlari ke rumah dan membawa kayu itu, dan akan kutunjukkan pada ibu. Kubuka pintu belakang rumah sambil memanggil ibu,“Bu, ibu, Lily punya kabar“. Tak ada jawaban. Aku menuju ke kamar dan melihat ibu tertidur. Kugoyang – goyangkan tubuhnya, kusentuh pipinya, tetapi ia tak juga bangun. Seluruh tubuhnya dingin, kaku. Setelah aku memeriksa denyut nadinya, seluruh tubuhku lemas. Seakan tak percaya kejadian ini. Aku menemukan serpihan kayu bertuliskan ZA, yang tak lain adalah serpihan dari kapal ayah. Dan kini, aku melihat ibu. Mereka berdua pergi meninggalkanku. Mereka kejam, pergi tanpa aku.
Sejak mereka pergi, bibi Jane tinggal di rumah untuk merawatku. Sedikit lebih merasakan hidup dengan cerahnya lampu. Tetapi entah mengapa semua itu membuatku bersedih. Aku tak lagi kaya akan kebahagiaan.
Sekarang, tepat malam ini, di pantai yang dingin aku berdoa sambil merintih kelaparan akibat hukuman bibi Jane. “Ayah, ibu, tolong jemputlah aku disini”, kataku hingga menangis. Dengan perlahan, aku mulai menundukkan tubuhku ke bawah, lalu memejamkan mata, dan berteriak bersama angin yang kencang. Aku berada tepat di bibir pantai, lutut hingga bagian bawah kakiku sudah terendam air laut. Aduh, aku lupa. Pada bulan ini air laut pasang. Ombak besar mulai datang. Aku harus cepat berlari ke daratan. Semakin cepat, semakin cepat, hingga aku terpeleset. Tidak, lututku berdarah terkena batu. Tolong! Arus ombak membawaku menuju laut. Aku berusaha beranjak dan berlari kembali. Sial, ada ombak lebih besar menuju kesini. Ayah, ibu, bibi Jane, maafkan aku. Tak sanggup lagi aku berdiri. Tuhan, tolonglah aku. Aku tak bisa berenang. Kurasakan air asin memenuhi tubuhku. Kini kuserahkan semua padaMu. Entah aku hidup atau mati. Aku menyerah. Selamat tinggal semuanya!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut