Pagi ini lebih panas dibanding kemarin. Mentari pagi telah menyinarkan sinar cerahnya ke arah mataku. Menyebalkan memang, tapi untunglah aku memakai kacamata. Inilah perjuangan. Melewati pasar ikan yang penuh dengan bau amis, serta tempat pembuangan sampah yang tak kalah baunya. Roda sepeda gunung milikku berputar kencang karena kayuhan kuat kakiku. Bau amis hilang, digantikan oleh bau asap kendaraan berlalu – lalang di terminal. Di sebuah pos yang tak terpakai dekat terminal, aku selalu melihat seorang kakek yang selalu tidur disana, jarang aku melihatnya bangun. Aku tak menghiraukan. Mengayuh sepeda, melawan beberapa angkutan umum di terminal. Kecepatanku jelas kalah. Rambutku berantakan diterpa angin kendaraan berlalu – lalang di jalan raya.
Kayuhanku semakin kuat dan semakin cepat. Roda sepedaku yang kemarin baru kutambal terasa keras saat melewati beberapa jalan yang berbatu. Tiba – tiba aku mendengar suara ledakan dan roda depanku berhenti berputar. Karena gesekan yang sangat kuat antara roda sepeda dan badan jalan, roda sepedaku meledak dan rusak. Alhasil aku harus menuntun sepedaku beberapa meter untuk sampai di tambal ban sepeda. Aku menunggu sangat lama roda sepedaku diganti. Berkali – kali aku memandangi jam tanganku, dan sekarang sudah pukul 06.25. 20 menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Aku pasti terlambat. Berdiri, menatap sepanjang jalan raya, lalu duduk lagi. Hanya itu yang bisa kulakukan. Karena sudah lelah, aku memilih duduk didekat sepedaku yang rodanya sedang ditambal.
Datang dari arah utara seorang kakek, kumal sekali bajunya. Dia berjalan kearahku, lalu duduk disampingku agak menjauh. Aku takut. Wajah keriputnya seperti sering kulihat setiap hari. Siapa? Ya, ia sangat mirip dengan kakek di pos yang tak terpakai dekat terminal yang kuceritakan tadi. Pakaiannya, kulitnya, rambutnya. Semuanya sangat mirip. Tapi terminal itu berada di selatan tempat ini. Aneh sekali.
“Nak, punya nasi“. Kata kakek itu dengan suara pelan.
“Punya“. Jawabku agak merunduk.
“Boleh saya minta?“. tanya kakek itu.
Sambil membuka tasku, dan mengambil nasi bungkus yang kubawa, aku memberikannya untuk kakek itu. Aku takut. Keringat mulai bercucuran di dahiku. Bertemu kakek yang belum kukenal sebelumnya, dan memberikan bekalku untuknya. Meskipun kakek itu tak melakukan hal buruk padaku, tapi aku tetap takut.
“Terima kasih atas nasi bungkusnya. Nak, hati – hati ya kalau naik sepeda, berdoa dulu. Perempatan sebelah sana agak berbahaya, jadi jangan lewat situ“. Katanya dengan suara yang pelan sambil berdiri dan jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah utara.
Untuk meresponnya, aku memilih untuk tersenyum. Tak mengeluarkan sepatah katapun. Hingga kakek itu pergi dan berlalu. Ia menyuruhku berdoa dan hati – hati jika bersepeda. Siapa sebenarnya kakek itu? Mengapa ia melarangku melewati perempatan itu? Padahal itu satu – satunya jalan tercepat menuju sekolahku. Apa dia ingin menyulitkanku dan membiarkanku terlambat sampai sekolah? Ah, biarkanlah. Lebih baik aku tetap melewati perempatan itu. Aku melihat arlojiku lagi. Astaga! 5 menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Akhirnya, sepedaku selesai di service. Setelah membayar ongkos, aku langsung melanjutkan perjalananku. Tak peduli dengan nasehat kakek tadi, aku berangkat menuju perempatan. Aku melihat lampu menyala hijau. Sambil mengusap keringat, aku bersama kendaraan lain melewati perempatan. Tak disangka, sepeda motor dari arah barat menerobos lampu merah. Tabrakan pun tak dapat dihindarkan. Sepeda motor itu menyerempet sepeda motor yang tepat berada disampingku. Akupun terkena imbasnya. Nasib buruk menimpaku pagi itu.
Aku terbangun kebingungan. Disekelilingku hanya ada mama dan papa, dan tempat yang asing bagiku. Ruangan apa ini? Kepalaku pusing. Seluruh tubuhku merasakan sakit. Lalu, mengapa lenganku di perban? Mengapa aku tak memakai sepatu dan kaus kaki? Ada bekas darah di lengan bajuku. Apa yang terjadi padaku?
“Nin, akhirnya kamu sadar juga, nak. Mama sangat khawatir“. Kata mama memegang tangan kananku sambil menangis.
“Seandainya sepeda motor disebelahmu tak oleng dan menimpa sepedamu, kamu pasti tak sampai masuk rumah sakit, nak“. Sahut papa.
Aku hanya diam sambil melihat ke arah jendela besar, bisa melihat keluar meskipun dalam keadaan terlentang diatas kasur. Kakek itu. Baru saja aku melihatnya berjalan melewati kamar ini. Aku ingat kejadian tadi. Tetesan air mata membasahi pelupuk mata hingga jatuh melewati pelipisku dan akhirnya berakhir di telingaku. Menangis bukan karena kesakitan, tetapi karena menyesal. Aku telah mengabaikan nasehat kakek. Aku lupa berdoa dan aku tetap melewati perempatan itu. Seandainya itu tak terjadi.
Beberapa hari kemudian, aku diperbolehkan pulang ke rumah karena lukaku tak terlalu parah. Keesokan harinya, aku bersekolah kembali. Tapi kali ini ada yang berbeda. Papa masih khawatir jika aku naik sepeda. Takut kejadian itu akan terulang kembali. Alhasil, papa mengantarkanku ke sekolah. Kepalaku masih diperban, tapi luka di lenganku lumayan membaik. Seperti biasa, kami melewati pasar ikan yang penuh dengan bau amis, dan juga tempat pembuangan sampah yang tak kalah baunya. Kami juga melewati terminal dan pos yang tak terpakai di dekat terminal. Sejak aku bertemu dengan kakek yang menasehatiku, aku tak pernah melihat kakek itu lagi di pos dekat terminal. Aku heran. Kemana perginya kakek itu? Misterius sekali. Semoga kejadian itu tak terulang lagi. Tapi kakek itu berjasa sekali, mengingatkanku agar selalu berdoa dan tak pernah melanggar nasehat orangtua.
Aku dan papa mampir ke pengisian bensin. Aku menunggui papa yang sedang membeli bensin untuk sepeda motor miliknya. Dari kejauhan aku melihat seorang kakek tua yang duduk disamping tempat sampah sambil menatap ke arah jalan raya. Ternyata itu kakek yang kemarin. Aku segera menghampirinya dan memberikan sedikit dari uang sakuku.
“Terimakasih nak. Tetap jadilah anak yang berbakti pada orangtua“. Kata kakek itu sambil tersenyum, lalu pergi begitu saja.
Setelah selesai mengisi bensin, aku dan papa kembali melanjutkan perjalanan ke sekolah. Sejak saat itu, aku tak pernah bertemu dengan kakek itu lagi. Entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi. Kakek yang misterius, tapi kata – katanya adalah nasehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar