DETIK TERAKHIR
Malam hari ini sangat dingin. Di kawasan sudut kota besar ini, berdirilah rumah yang megah dibilang orang. Ya, itu rumah Ney. Rumah putih yang berada tepat di persimpangan jalan. Ney tinggal sendiri, ayahnya bekerja di Jepang, sedangkan bundanya meninggal saat mereka liburan ke Kanada. Itu terjadi waktu dia masih kecil, kira – kira 11 tahun yang lalu. Di rumah yang sebesar ini, Ney hanya ditemani seorang sahabat, Fre. Ayahnya jarang sekali pulang. Tapi seminggu ini, ayah Ney berada di rumah.
Neyla, biasa dipanggil Ney. Usianya kini genap 17 tahun. Usia yang sangat ia tunggu. Fre adalah sahabat Ney, bisa dibilang sahabat sejati. Mereka bersahabat sejak SD kelas 3, saat keluarga Fre mempunyai masalah dan akhirnya ia dijauhi oleh teman – temannya.
“Fre, kamu mau kemana?“. Tanya Ney.
“Biasa Ney“. Jawab Fre.
“Kamu mau kesana lagi?“. Tanya Ney sambil menghela napas.
“Iya lah Ney. Aku nggak bisa sehari nggak kesana“. Kata Fre sambil menepuk pundak Ney.
“Fre, kamu kapan berubah?“. Tanya Ney sambil berdiri.
“Aku nggak akan mau berubah Ney“. Jawabnya enteng.
“Harus bisa!“. Ney memerintahnya.
“Jangan paksa aku Ney. Aku udah ngelakuin ini sejak kelas 3 SMP, sejak 3 tahun yang lalu“. Jelasnya.
“Aku capek Fre. Apa ini karena kamu broken home?”. Ney mengucapkan kata – kata yang nggak disukai oleh Fre. Fre memandang Ney marah. Tangannya terangkat hendak menampar. Ney menjadi takut. Ney takut ditampar Fre. Tangannya berat seperti tangan Reynald, pacar Ney. Tak tahu beratnya berapa, yang jelas Ney pernah tak sengaja jatuh karena senggolan Fre. Ney sudah tak tahu lagi cara untuk menyembuhkan Fre. Ney menyerah.
“Nggak Ney, aku nggak akan nampar kamu“. Kata Fre memeluk Ney. Dan berjalan menuju mobilnya.
Freta. Kemana sosokmu yang feminim itu? Apa karena kamu tak lagi mendapat kasih sayang dari ibu kau bertindak seperti ini? Gadis feminim yang pernah Ney kenal rasanya hanya tinggal kenangan. Fre bersikeras tidak akan mau berubah.
Setelah Fre pergi, Ney memilih untuk masuk ke dalam rumah. Setidaknya Ney tidak sendirian pada minggu ini. Masih ada ayah Ney yang pulang dari Jepang selama seminggu. Ney menyusuri taman menuju teras rumahku, dan Ney duduk di kursi taman, merenung sendirian. Memikirkan apa yang hendak dilakukan Fre bersama teman – temannya disana. Apa Fre bersenang – senang atau malah menyiksa dirinya sendiri. Ney mengusap wajahku yang penuh dengan keringat dingin. Ney khawatir dengan Fre. Gara – gara memikirkan Fre, Ney jadi lupa dengan Reynald.
Sementara itu, Fre telah sampai di club tempat biasa ia menghabiskan waktunya untuk berfoya – foya. Disana ia selalu merokok, dan tak jarang dia juga meminum alkohol. Ternyata perkataan ayah Ney benar. Di club yang sama, Ella teman sebangku Ney juga berada disana. Tapi dia tidak seperti Fre, dia hanya menjadi pelayan disana. Ella tahu perilaku Fre saat di club. Tak jarang ketika Fre mabuk, Ella yang selalu membawa Fre pulang kerumahnya.
Keesokan harinya, Ney berangkat sekolah. Seperti biasa, Reynald pacar Ney selalu menjeput Ney pagi - pagi sekali. Ayah Ney sudah kembali ke Jepang tadi subuh karena ada hal yang mendadak. Terpaksa hari ini Ney tak sarapan pagi karena bahan makanan telah habis dan lupa berbelanja.
Setelah sampai sekolah, mereka berdua berjalan bersama menyusuri beberapa ruang kelas X, dan akhirnya mereka berpisah di depan ruang kelas XII-1. Ney adalah siswi kelas XII-1, sedangkan Reynald adalah siswa kelas XII-6. Maka, Ney masuk kelas terlebih dahulu, sedangkan Reynald menuju ke lantai 2 menuju ke kelasnya.
Ney langsung duduk di bangkunya. Melihat kearah belakangnya, rupanya Fre belum datang. Sementara Ella teman sebangku Ney baru saja datang, dan langsung berbicara pada Ney.
“Ney, lebih baik kamu nggak usah deh, berteman dengan Fre“. Kata Ella yang baru saja duduk di bangkunya.
“Udahlah El, aku bisa jaga diri kok“. Ney menjawabnya dengan tenang.
“Kemarin Fre mabuk lagi, dan akhirnya aku yang harus membawanya pulang“. Ella menggerutu.
“Oh iya, kapan ibumu bisa bekerja dirumahku? Aku kesepian lho El“. Ney berusaha mengalihkan perhatian. Ella memandang Ney sayang.
“Oh iya, pasti hari ini Fre tidak masuk lagi”. Kata Ella.
“Kok kamu tahu?”. Ney heran.
“Ya iyalah, kemarin malam Fre mabuk berat“. Ella menjelaskan.
“Oh, begitu“. Jawab Ney singkat.
“Nah, sebaiknya kamu hati – hati ya Ney“. Kata Ella.
“Aku selalu melihat Fre mempunyai banyak teman laki – laki. Tapi kenapa dia belum mempunyai pacar? Apa dia nggak waras?”. Kata Ella.
“Hush! Ngomong apa kamu ini El”. Ney membentak Ella
Selama ini Ney selalu berfikir, apa yang terjadi dengan sahabatnya itu? Apa benar perkataan Ella tadi? Hanya waktu yang bisa menjawab. Kalaupun iya, Ney akan tetap selalu ada disamping Fre, dan terus membimbing Fre. Kalaupun tidak, Ney tidak akan meninggalkan Fre.
Bel pulang pun berbunyi. Reynald menghampiri ke kelas Ney untuk mengajak pulang. Ney mencoba untuk bercerita pada Raynald.
“Hmm.. Rey, Fre itu cantik nggak sih?”. Tanya Ney tiba – tiba.
“Menurutku sih dia cantik, tapi dia nggak bisa jaga diri, dan akhirnya dia salah jalan”. Jawab Reynald.
“Tapi, kenapa nggak satupun laki – laki di sekolah ini yang mau pacaran dengan Fre?”. Tanya Ney.
“Nggak ada yang mau mungkin. Atau mereka ilfil dengan tingkah laku Fre yang nggak pernah nunjukkin jati dirinya sebagai seorang perempuan. Sifatnya cowok banget!”. Rey menjelaskan.
“Ow”. Jawab Ney singkat.
“Bukannya Fre selalu main kerumahmu ya? Aku aja kalah sama dia“. Kata Rey.
“Maksudmu?“. Ney heran.
“Maksudku, Fre yang hanya sahabatmu selalu kerumahmu tiap hari, sedangkan aku yang pacarmu? Jarang main kerumahmu“. Jawab Rey.
“Hahaaha... Kan tiap hari kamu menjemputku kan? Berarti sama aja“. Kata Ney.
Saat malam hari, Fre kembali mengunjungi Ney dirumahnya. Kali ini dia wangi, pasti memakai parfum. Tapi kali ini ada yang aneh dengan Fre. Ia duduk disamping Ney, serta membelai rambut panjang Ney. Persis sekali dengan adegan orang berpacaran. Tiba – tiba, Fre hendak mencium pipi Ney. Ney yang kaget, langsung berdiri dan menampar Fre tanpa peduli dirinya lebih lemah daripada Fre. Ney tak tahu apa yang sedang merasuki diri Fre. Karena takut, dia langsung mengusir Fre dan memilih untuk menyendiri dirumah.
Kejadian itu tak berlangsung sekali, hampir setiap kali Fre berkunjung ke rumah Ney. Tapi Ney tetap menolaknya. Sampai suatu hari, Fre mengatakan sesuatu yang mengejutkan Ney.
“Ney, aku boleh ngomong sesuatu ke kamu nggak?”. Tanya Fre.
“Ngomong aja. Nggak ada yang ngelarang kok”. Jawab Ney ketus.
“Kamu janji nggak akan marah?“. Tanya Fre lagi.
“Hmm.. Sebenernya.. akuu… akuu..”. kata Fre.
“Kamu itu ngomong apa sih? Nggak jelas banget!“. Kata Ney yang semakin emosi.
“Aku suka kamu Ney, aku ingin jadi pacar kamu“. Kata Fre.
“Apa? Apa kamu sudah gila Fre? Fre, kita ini sama – sama perempuan, di luar sana masih banyak laki – laki yang mungkin menyukaimu. Tapi kenapa harus aku?“. Tanya Ney yang mulai meneteskan air mata.
“Aku ingin sama kamu”. Jawab Fre singkat.
“Tapi maaf Fre, aku nggak bisa“. Kata Ney sambil memeluk Fre.
“Kenapa?”. Tanya Fre.
“Aku sudah menganggapmu seperti kakakku. Kita sudah bersama sejak lama, dan yang paling penting aku masih menginginkan sosok laki – laki disampingku”. Ney menjelaskan.
“Kau jahat!”. Kata Fre.
Setelah mengucapkan itu, Fre langsung pergi meninggalkan rumah Ney. Dia pergi menuju rumah Reynald tanpa sepengetahuan Ney. Ia melampiaskan kemarahan kepada Reynald karena Ney menolaknya. Dia memukul dan menampar Reynald. Mencaci maki, dan menganggap Reynald adalah penyebabnya. Tapi sekuat apapun tenaga perempuan, ia tetap kalah dengan tenaga laki – laki. Reynald memukul balik Fre, yang langsung terjatuh. Keadaan Reynald telah babak belur, begitu pula dengan Fre. Karena merasa kalah, Fre kabur meninggalkan Reynald.
Fre langsung pulang ke rumahnya. Dia melampiaskan kembali kemarahannya pada jajaran botol anggur yang tertata rapi di meja. Membantingnya, menendangnya hingga botol tersebut pecah dan serpihan kaca berserakan di lantai. Fre terus menangis tak henti – hentinya. Cinta terlarangnya kepada Ney yang membuat Fre melakukan hal ini. Lalu, dia mengambil salah satu serpihan kaca yang berserakan di lantai, dan menyayat lengannnya dengan kaca yang telah dipegangnya. Tanpa sengaja, urat nadi yang berada di pergelangan tangan Fre ikut tersayat. Pendarahan pun tak bisa dihentikan. Tak ada seorangpun yang menolong, karena Fre tinggal seorang diri. Fre tewas karena pendarahan yang parah.
Dua hari kemudian, Ney tak tahu dimana Fre. Ella juga tak pernah lagi bertemu dengan Fre di club, Reynald pun heran. Akhirnya, Ney dan Reynald memutuskan untuk mengunjungi rumah Fre. Setelah sampai disana, Ney beberapa kali memencet bel namun tak ada yang menjawab. Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah Fre. Setelah membuka pintu utama yang tidak dikunci, Ney langsung jatuh pingsan. Mereka menemukan Fre tak bernyawa. Reynald pun menghubungi polisi dan membawa Ney ke rumah sakit. Mayat Fre sudah ditangani polisi.
Keesokan harinya Setelah Fre dimakamkan, Ney tak henti – hentinya menangis. Dia sangat menyesal tak bisa menrubah Fre menjadi orang yang baik. Bahkan, di saat terakhir Fre, Ney tak ada disampingnya. Ella dan Reynald pun juga bersedih atas kematian Fre. Rumah Fre kini tak berpenghuni lagi. Hanya ada rumput liar yang menjulang tinggi, kelelawar, dan serangga yang menjadi penghuninya, dan mungkin ada yang lain.
Ney merasa bersalah. Untuk menebus rasa bersalah itu, ia dan Reynald memutuskan untuk selalu merawat makam Fre dan mendoakannya. Dengan begitu, Ney selalu ada di dekat Fre sampai kapanpun.
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar